Kuala Namu International Airport: Between Modern Architecture and Traditional Mindset


Apa yang ada di benak kita ketika pertama kali melihat sebuah pesawat? Tentu takjub, antusias, dan ada rasa penasaran yang membuncah. Begitu pula perasaan saya dulu sekali. Ditambah lagi saat menaiki pesawat untuk pertama kali, rasa was-was membayangkan jikalau pesawat yang saya tumpangi jatuh. Namun seiring berjalannya waktu saya menjadi terbiasa, dan tidak ada canggung lagi.

kualanamu 1

kualanamu 2

Nah, berpindah operasinya bandara penerbangan di Medan yang awalnya Polonia kemudian berpindah ke area dekat dengan Lubuk Pakam dan resmi bernama Kuala Namu tersebut telah digadang-gadangkan sebagai bandara internasional paling berkelas. Tidak tanggung-tanggung dana yang dibuat untuk membangun bandara Kuala Namu berkisar triliunan.
Seiring dengan perkembangan salah satu moda transportasi di Sumatera Utara tersebut, ternyata sangat disayangkan belum sejalan maksimal dengan pola pikir masyarakat setempat. Bayangkan coba diawal-awal pengoperasian bandara Kuala Namu saja telah membikin banyak kemacetan. Bukan dikarenakan para calon penumpang pesawat, akan tetapi para warga yang berduyun-duyun untuk menyaksikan pesawat di bandara. Hal serupa saya alami ketika jelang lebaran hendak akan balik ke Jakarta. Di sepanjang jalan saya amati begitu banyak sepeda motor, dan bermobil-mobil memarkir dibibir dekat pintu kedatangan/keberangkatan.

kualanamu 3

kualanamu 4

Animo masyarakat mengenai bandara Kuala Namu, sudah bagus. Adapun ingin sekali melihat pesawat juga tak mengapa menurut saya. Akan tetapi ada baiknya punya kesadaran untuk memarkir di tempat yang telah disediakan. Kalaupun ingin melihat ya tertib. Kenyataan yang terjadi banyak calon penumpang pesawat yang mengeluh mengenai kemacetan arah ke bandara.

kualanamu 5

kualanamu 6

Selain itu, di dalam, ruang tunggu pesawat sebelum boarding, tidak jarang saya perhatikan banyak sampah berada dibawah bangku atau di sela-sela atau pojok ruangan. Ternyata ada saja calon penumpang yang tidak sadar tentang tempat membuang sampah, padahal telah disediakan. Ketika di toilet juga saya sempat mencuri dengar beberapa orang mengeluh mengenai ketersediaan toilet yang kurang bersih dan ketidaksediaan tissue toilet. Padahal, ketika saya minta kepada salah satu cleaning service ternyata ada. Di bilik toilet pun, cenderung basah, dan para perempuan banyak pula yang membenamkan kakinya ke dalam wastafel untuk mengambil wudhu karna ketiaadaan bilik khusus untuk berwudhu, jadi tidak heran berbecek-becek ria di dalam toilet.

kualanamu 7

Mudah-mudahan saja ke depannya masyarakat kita, dan warga sekitar khususnya lebih membuka cakrawala bahwa sebuah bandara penerbangan itu sejatinya bukan objek wisata, melainkan jalur orang-orang yang hendak bepergian. Sama sajalah seperti terminal bus, ataupun pelabuhan. Dan kepada semua pengguna atau pengunjung bandara, please deh…. katanya kebersihan itu sebahagian dari iman! harusnya kan datang dari diri pribadi sendiri, tanpa harus dimonitori dari orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s