Agama itu milik siapa sih?


me

Saya terlahir dari kedua orangtua muslim, dan saya juga memiliki nama islami sekali. Semuanya berproses. Sisi spiritualitas saya haus untuk terus menggali lebih dalam tentang hakekat hidup. Ketika proses itu berlangsung, saya juga memertanyakan tentang agama yang bukan sebagai pilihan personal, tetapi diturunkan. Sama halnya, ketika saya dilahirkan sebagai orang Indonesia. Saya tidak memilih untuk hal tersebut. Segalanya berproses hingga pada suatu titik orang tersebut boleh jadi berpindah warganegara, atau pindah agama, atau juga memilih untuk tidak beragama sama sekali. Segalanya berproses.

Lalu, ketika sekelompok orang yang mengaku “relijius” dengan dalil-dalil sebagai tuah yang disucikan memertanyakan atau justru membahayakan hak hidup orang lain, apakah masih cerminan sebagai sebuah nilai-nilai dari agama?

Agama itu milik siapa sih?

Apakah seseorang yang memiliki orientasi seksual berbeda dengan kebanyakan tidak mendapat tempat dalam sebuah agama? Apakah agama punya warna? Apakah manusia sah menyakiti orang lain menurut agamanya?

Seorang pelacur, homoseksual, orang bertato, transgender, atau seorang filsuf tidak pantas diberi ruang dalam agama? Lalu mereka hendak dikemanakan? Dibunuh kah? Dicacikah? Dipenjarakan? Dipaksa dengan cambuk agar menjejali agama yang dimaui?

Saya melihat begitu dekat. Begitu nyata aksi-aksi yang mengatasnamakan agama justru cenderung menyakiti dan penuh kekerasan baik secara verbal, serta non verbal.

Apa yang dicari dari agama? Surga? Neraka? Pernahkah ke sana? Garansi darimanakah kita mendapatkan kriteria-kriteria yang dituahkan? Apakah manusia itu bisa melepas dari konsep “dosa”?

Seorang homoseksual tidak pantas ditolong bila kesusahan, karena dibenci menurut “agama” – katanya. Sekejam itukah? Sebuah aliran kepercayaan yang berbeda dari pola agama tertentu, kemudian dimusuhi? Sebegitu anarkiskah? Bukankah semakin banyak melihat perbedaan, maka segalanya akan banyak menemui jurang kesusahan. Fokus pada persamaan sebagai manusia yang memiliki hati nurani bukankah jauh lebih bijak? Terlepas lagi, bahwa sebuah ketidaksetujuan harusnya menjadi celah kebersamaan, toleransi, dan pemahaman mendalam dibandingkan pembenaran-pembenaran karna merasa paling benar, suci, dan lebih tinggi di mata agamanya, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s