Mengapa ada lelaki “normal” menyukai waria?


Apa yang biasa muncul di pikiran ketika saya sebut “Taman Lawang” yang ada di seputaran Menteng Jakarta atau “Jalan Irian Barat” di sepanjang Kali Mas Surabaya? Pasti terlintas kata atau bayangan sosok waria. Yah, wilayah itu memang contoh ikon keberadaan komunitas transgender di Indonesia. Di daerah lain seperti Semarang, Makassar, atau Medan tentu beda pula penabalan wilayahnya.

Eksistensi waria yang merupakan bagian dari fenomena transgender – istilah umum untuk menggambarkan aktivitas peran gender yang berkebalikan dengan nilai gender konvensional – telah melekat secara historikal di Tanah Air. Di Makassar, misalnya, ada yang disebut bissu, sosok spiritual yang berperilaku feminin, kontras dengan fisiknya yang laki-laki. Mereka sangat dihormati dan menjadi bagian penting dalam sebuah ritual budaya Bugis.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk tentu lain pula ikannya. Tidak semua orang bisa menerima keberadaan waria. Para bissu di Makassar pun pernah mengalami masa-masa sulit: dicemooh, dianggap murtad, dan tidak sedikit pula yang dibunuh.Waria dipandang abnormal, nyeleneh, tabu, dan melanggar norma-norma. Banyak yang akhirnya diusir dari keluarga dan putus sekolah. Karena tak memiliki keterampilan memadai dan ada desakan kebutuhan finansial, maka tidak sedikit yang terjun ke dunia prostitusi alias nyebong atau jual diri. Sektor formal seperti kerja kantoran, mana mau menerima mereka!

Coba klik di google dengan kata kunci shemale atau ladyboy, pasti akan tertatut dengan berpuluh-puluh gambar seronok yang mempertontonkan lekuk tubuh waria sebagai bagian dari industri pornografi di dunia maya.

Tidak semua memang transgender melacurkan diri demi eksistensi, tapi tidak bisa dimungkiri ada. Sama halnya seorang perempuan pelacur atau gigolo. Namun karena secara psikis, fisik, maupun spiritual berbeda dari kebanyakan orang, komunitas transgender lebih disorot dan punya daya picu kontroversial yang menarik untuk ditelaah.

Pertanyaannya? Siapa sajakah yang berminat dengan para transgender tersebut? Ada banyak kebun mawar terpelihara, tentu ada kumbang yang hinggap bukan? Sebuah kursi saja bisa tegak ditopang berpasangan di kedua sisi, apalagi manusia yang berhasrat untuk berpasangan agar hidup terasa lengkap. Tidak terkecuali waria atau transvestit, atau transeksual sebagai payung komunitas transgender yang juga memiliki perasaan untuk dicinta dan mencinta. Industri esek-esek yang  dilakonin oleh sebagian waria juga tidak lekang oleh tetamu yang mencintai mereka. Hampir semua tamu itu laki-laki yang katanya “normal”, bahkan ada yang telah beristri –perempuan “normal” pula. Lalu kenapa masih tergoda dengan waria? Beberapa pekerja seks komersial yang saya wawancarai mengaku laki-laki datang pada mereka karena hasrat coba-coba,  penasaran secara seksual, namun ada pula yang benar-benar mencintai mereka sepenuh hati selayaknya pasutri.

Sejatinya masyarakat kita mengenal hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tentu tidak mudah dimengerti ketika seorang laki-laki memiliki ketertarikan dengan seorang transgender. Ada yang menganggap perilaku menyimpang, gila, bahkan sebagai tanda akhir dunia. Karena begitu banyak perempuan muda cantik, mengapa harus mendekati dan memperistri mereka? Sudah mulia Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang sempurna, namun kenapa harus ada waria? Gelembung pertanyaan itu bisa kian membesar menyelumiti pikiran, hingga meletus, menguap tanpa bekas.

Begitu pula kehadiran waria. Mereka ada dan entah sampai kapan. Laki-laki yang mencintai mereka pun selalu ada. Di Western, beberapa label seperti transfans, tranny chaser, trans catcher, atau trans hawk akrab ditujukan kepada seseorang yang mencintai transgender dan cenderung berkonotasi negatif, yaitu di cap sebagai playboy transgender.

Sedangkan dalam kamus psikologi susunan Raymond J. Corsini (2002) ada istilah “gynemimetophilia” yang merujuk seseorang secara seksual memiliki ketertarikan atau keterangsangan terhadap figur transvestit atau lebih akrab kita sebut waria atau juga seorang transseksual yang belum melakukan operasi penyesuaian kelamin sebagai seksual partner.

Pertanyaan berikutnya, laki-laki yang menyukai transgender itu gay atau homoseksual? Jawabannya, ternyata, bukan! Menurut transoriented.com, mayoritas laki-laki yang tertarik secara seksual dan psikis terhadap transgender adalah heteroseksual. Pernyataan itu diperkuat oleh seorang aktifis LGBT Kanada, Nina Arsenault dalam Wikipedia:

I’ve had sex with two professional athletes, a movie star, two TV personalities, the CEOs of two fortune 500 companies, four guys who worked for the mob, a string of strippers, many male models, a bunch of body builders, loads of night clubbing suburban guys… all of them straight…

Merujuk pada pengelompokan skala identitas gender yang pernah dipublikasikan oleh Dr. Harry Benjamin, ada enam klasifikasi perilaku transgenderisme. Tiap tipe menerangkan perbedaan signifikan mulai dari kesadaran gender yang diidentifikasi sampai dengan kehidupan seksualnya. Jadi sangat berbeda dengan label “waria” yang berkembang di masyarakat kita. Salah satu tipe dengan intensitas gender yang besar disebut sebagai “true transsexual”, dimana seseorang mengidentifikasi gender dirinya secara total sebagai gender yang berkebalikan dengan anatomi biologisnya, sehingga operasi penyesuaian kelamin sangat dianjurkan demi pertimbangan psikis dan mental. Sehingga perspektif orientasi seksualnya dianggap heteroseksual seperti hubungan antara laki-laki dan perempuan pada umumnya.

Akan tetapi ada tipe transgender seperti figur waria yang kita kenal, dimana secara fisik memiliki payudara, tetapi masih memiliki organ vital laki-laki. Kategori ini yang cenderung menjadi objek lelaki gynemimetophilia. Menurut sumber yang diperoleh oleh Peneliti dari hasil wawancara langsung, lelaki gynemimetophilia merasa bahwa ada keunikan antara figur femininitas dan maskulinitas dalam satu tubuh. Ketika melakukan kontak fisik pun cenderung memersepsikan hubungan seperti heteroseksual. Tentu sangat sukar dipahami bila tidak mengalami sensasi dari ketertarikan tersebut.

Perbedaan mendasar dari “gay” adalah lelaki gynemimetophilia tidak memiliki bayangan tentang laki-laki, dan tidak berorientasi secara seksual ketika seseorang berpenampilan, dan berperilaku sebagai laki-laki. Sehingga tidak heran kecenderungan lelaki yang memiliki ketertarikan terhadap transgender adalah heteroseksual, karena seperti yang dikutip dari jurnal dalam transoriented.com, transgender pun mengidentifikasikan dirinya sebagai individu heteroseksual, bukan homoseksual. Jadi antara transgender dan lelaki yang mencintainya memiliki perspektif yang sama.

Jadi permasalahan yang muncul sama dengan kasus homoseksual, ketika daya minat tersebut menjadi sebuah ketidaknyamanan dalam diri, sehingga muncul gangguan secara psikis dan mental. Seperti merasa aneh, bersalah, dan berdosa karena telah memiliki ketertarikan terhadap transgender. Biasanya berpengaruh terhadap kehidupan sosialnya yang rendah diri, tertekan, dan depresi.

Menurut rightdiagnosis.com, secara umum seorang gynemimetophilia berdamai dengan kondisi dirinya, kecuali muncul ketidaknyamanan dari dalam diri karena telah memiliki perasaan tersebut, maka cara yang biasa ditempuh melalui treatment seperti hipnosis, terapi perilaku, terapi kognitif, bahkan terapi obat-obatan. Akan tetapi, perlu kajian mendetail agar terhindar dari diagnosis psikologis yang kurang tepat.

Pada akhirnya kita sendiri yang memutuskan hendak tertarik pada siapa? Diri sendiri? Laki-laki? Perempuan? Transgender? Atau mencintai semuanya – pansexuality? Bagaimanapun, cinta yang didasari pada penghormatan dan penghargaan diri dengan mengesampingkan kelamin, tentulah bukan hal yang mudah.

P.S. Tulisan saya ini juga dipublikasikan oleh Arus Pelangi (https://app.box.com/s/h2a3l000ksu1y3n6yen6)

Advertisements

9 thoughts on “Mengapa ada lelaki “normal” menyukai waria?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s