LGBTQ Movies VS. Movie Censorship Board of Indonesia


Ada banyak perfilman yang mengusung tema LGBTQ di seluruh dunia, sebut saja Brokeback Mountain, Trans America, Kinky Boots, dan lain sebagainya. Akan tetapi, perfilman bergaya serupa tersebut akan cenderung berhadapan dengan birokrasi badan sensor perfilman yang ketat di Indonesia.

Seperti kita ketahui Indonesia merupakan Negara muslim terbesar di dunia. Sebagai bangsa yang dipandang relijius cenderung mengharamkan segala bentuk homoseksualitas, termasuk LGBTQ tersebut.

Sehingga jika hendak menggangkat isu-isu mengenai LGBTQ yang nyata di masyarakat ke dalam bentuk film akan mengundang banyak tantangan, terutama dari aliran garis keras agama.

Komunitas LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, & Queer) sebenarnya ada disini, negeri ini, Indonesia. Berkembang dengan sangat subur sekali. Mulai dari kalangan menengah ke bawah sampai atas, seperti pejabat pun ada yang punya orientasi seksual sebagai Gay, atau bahkan Biseksual. Cuma tabu untuk diperbincangkan secara hukum tradisional dan konvensional. Lebih baik jalani saja tanpa perlu bilang siapa-siapa.

Yah, okelah jika tidak diumbar secara murahan. Sah-sah saja. Tapi disini para Insan perfilman, ada yang tergerak memfasilitatori sebuah kenyataan yang ada terjadi di masyarakat ke dalam layar. Jadi ingin ditayangkan persis kayak aslinya. Toh, pencitraan itu bisa dijadikan pembelajaran, gambaran bahwa, “Oh..ternyata banci itu gitu yah!” atau “homo tuh pacarannya kayak gitu yah!” jadi ada transfer informasi. Semakin memperkaya wawasan, bukan serta merta yang heteroseksual langsung jadi ngondek selepas nonton film berbau LGBTQ, kan tidak begitu maksudnya.

Kebetulan hari Sabtu, 11 Juni 2011 kemarin saya berkesempatan untuk datang ke sebuah acara yang bertajuk “SOLIDARITY DAY; CITIZENS IN DIVERSITY” yang dihadiri Mbak Lisa (Kalau saya tidak salah) salah satu pecinta film Indonesia, kemudian ada mas Dimas, Mbak Lola Amaria (aktris yang pernah main film Ca Bau Kan tahun 2002 dan sederet layar lebar lainnya http://id.wikipedia.org/wiki/Lola_Amaria), lalu ada Dinda Kanya Dewi (aktris yang akrab tampil di serial TV, Cinta Fitri, http://id.wikipedia.org/wiki/Dinda_Kanyadewi), dan Dian (kalau tidak salah) selaku moderator acara.

Bincang-bincang tersebut awalnya sangat membosankan – menurut saya. Karena Sang Moderator kurang bisa menguasai tema yang sebenarnya DAHSYAT, apalagi diadakannya di area food court Pasar Festival Jakarta, dimana banyak pengunjung yang berdatangan. Nah, acara itu mulai “hidup” ketika sesi pertanyaan berlangsung. Salah satu pertanyaan meluncur dari saya, yaitu “Bagaimana visi dan misi dari perfilman yang bertema LGBTQ itu bisakah menjangkau aspek keluarga?” Karena menurut saya gambaran keluarga bisa menjadi aspek penting juga untuk diperfilmkan. Sebagaimana kita tahu, banyak dari Transgender, atau Gay yang diiusir dari keluarga karena dianggap memalukan – aib.


Jawaban yang bisa saya tangkap dari pertanyaan saya tersebut adalah mereka masih cenderung mengacu pada film pendek yang mana fokus pada subjek, si Transgender, atau si Gay, atau si Lesbian dengan gaya umum, tak sampai mendetail seperti itu. “Itu pun kalau tidak disensor!” celetuk Lola Amaria ketika itu.

Untuk mengusung cerita-cerita mengenai kaum minoritas seperti LGBTQ memang butuh proses di negeri ini. Visi dan Misi-nya simpel. Supaya menghargai keberagaman seksualitas ditengah kemajemukan suku, ras, dan bahasa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Semoga perfilman Indonesia semakin maju, tidak sekedar mempertayangkan hantu, pocong, sundel bolong, dan teman-temannya yang bersifat superstition. Tapi film Indonesia yang saya harapkan adalah film yang tidak membatasi kreatifitas, tidak membatasi sebuah kenyataan yang ada. Sebagaimana Badan sensor perfilman Indonesia cenderung masih malu-malu untuk memberi ruang, terkhusus film-film LGBTQ.

Advertisements

2 thoughts on “LGBTQ Movies VS. Movie Censorship Board of Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s