“Aku capek diolok-olok terus… capek harus terus dijadikan objek seksual, dan capek karena merasa tak ada mencintaiku… apa aku masih pantas hidup?”
Kutipan itu berasal dari seorang transgender yang ada di depan saya ketika itu. Raut wajahnya begitu lusuh, seolah ada seribu beban yang dipakul dipundaknya.
Hidupnya sungguh tertekan. Ia tidak saja dikucilkan sebagai manusia, tapi juga tak dianggap untuk memenuhi isi perutnya. Begitu banyak teman-teman yang senasib dengannya jatuh ke dunia prostitusi. Karena disanalah tempat mereka bisa bertahan agar asap dapur bisa mengepul. Belum lagi cibiran dari warga sekitar, sungguh ironis, para lelaki itu mencibir mereka, tapi di lain waktu menggunakan jasa mereka.
Sebut saja nama teman saya itu, Mirna. Ia memiliki pemikiran untuk tidak mau terjerumus menjadi penjaja seks. Tapi bekerja di sektor formal pun sangat susah bagi dia. Apalagi di Indonesia ini, masih banyak orang yang buta hati dan pikirannya, cuma bisa melihat dibalik selangkangannya, dibanding kemampuan yang ia miliki.
Itulah nasib Mirna, dilema yang berkepanjangan. Ia telah meminta kemukjizatan pada Tuhan agar diberi petunjuk sembari ia juga berusaha mencari tahu asal muasal kenapa ia terlahir sebagai manusia yang ‘beda’. Yah berbeda, sebahagian orang beranggapan ia berada diambang batas normal dalam peran gendernya, “fisik yang terlihat laki-laki, kenapa perilaku begitu feminin???”
Kini Mirna digenangi kesedihan. Saya tak tahan melihatnya seperti itu. Namun saya belum bisa berbuat banyak. Menjadi pendengar yang budiman saja, saya rasa sudah sangat berharga buat dia. Paling tidak menunjukkan empati saya. Benar-benar berempati buat Mirna.
“Kamu tentu saja masih pantas hidup, Mirna” jawab saya seketika.
“Kehidupan seperti apa, Jane? Apa aku harus melacur juga. Apa aku harus mengamen juga. Aku juga tak punya skill nyalon seperti stereotipe yang berkembang selama ini!”
“Kadang hidup memang dihadapkan pada pilihan yang berat. Tapi pasti ada hikmah yang mendalam dari pilihan-pilihan itu!”
“Niat hati yang baik, nantinya pasti berbuah baik, meski memang harus melalui pilihan yang gak gampang, Mirna” jelas saya lagi.
Airmata Mirna bergulir membasahi pipinya. Ia merasa sendiri. Teman-teman sesama transgender pun mengucilkannya, karena merasa ia sok suci, gak mau melacur. Ia juga harus bekerja agar bisa makan, tapi ia masih bingung.
Haruskah ia juga melacur? sedangkan ijazah sekolah pun tak berlaku bagi dia, karena mana ada kantoran yang mau nerima dia!
Dari kasus yang dialami oleh Mirna, saya sangat prihatin, dan menjadi contoh begitu banyak nasib transgender yang belum bisa mendapatkan haknya sebagai warganegara bekerja di sektor formal, karena dikaitkan keadaan mereka sebagai transgender.
Ada satu buah contoh yang kontras terjadi di Thailand, dimana sebuah penerbangan menerima transgender bekerja sebagai pramugari di pesawat tersebut (link: http://www.smh.com.au/travel/travel-news/thai-airline-hires-transsexual-flight-attendants-20110128-1a7gv.html).
Dari contoh tersebut sejatinya bisa menjadi cermin buat banyak pihak bahwa mereka pun manusia, dan layak untuk ditempatkan di sektor formal. Bukan karena fisik mereka, tapi kemampuan yang mereka miliki. Seperti contohnya Mirna, ia kemungkinan memiliki bakat di sektor formal. Boleh jadi hitung-menghitung, analisis, atau bahkan rancang bangun.

Sudah semestinya para transgender diberi ruang yang lebih luas lagi untuk bekerja di sektor formal. Dibandingkan dibiarkan ditelantarkan begitu saja potensi-potensi yang seharusnya bisa dikembangkan. Cukup sudah saya rasa, stereotipe bahwa transgender itu kalau tidak melacur di jalanan, yah kerja di salon, atau jadi penata rias. Maksud saya bukan berarti rendah jika bekerja sebagai penata rias, tapi persepsi yang berkutat di area itu perlu didobrak. Bahwa seorang transgender pun bisa menjadi dokter, sekretaris, atau bahkan direktur. Gak ada yang salah bukan, selagi memiliki kemampuan di bidang tersebut.
Lalu kenyataan yang masih terjadi di lapangan seperti tak bergerak. Perlu diketahui menurut Rustam Efendy (http://politik.vivanews.com/news/read/23983-partai_partai_merayu_waria) jumlah transgender di tanah air ini sekitar tujuh juta orang, dan itu pun masih banyak yang belum terdata oleh badan statistik. Jadi bukan tidak mungkin jumlah yang besar itu selayaknya diberi tempat yang layak di sektor formal.
Saya berharap, bagi para pembaca yang memiliki usaha, seorang pemimpin dalam perusahaan, atau siapapun itu kiranya memberi sedikit cahaya buat kehidupan transgender tersebut. Karena menurut saya, mereka juga tidak mau dilahirkan seperti itu. Sama halnya seorang manusia yang tak dibekali tangan yang lengkap, atau mata yang sempurna. Saya rasa semua dari kita itu tak sempurna. Kita hanyalah makhluk yang akan ‘merasa’ sempurna dalam ketidaksempurnaan kita.
Mungkin itu dulu yang bisa saya torehkan kali ini mengungkap sisi lain dari kehidupan transgender di sekitar kita.
Semoga bermanfaat dan memberi gagasan ke depan terhadap salah satu komunitas yang masih termarginalisasikan ini, terima kasih.