“Dear, jangan bawa plastik kresek aghh, I’d be ashamed to bring those things!”
“Masa cantik-cantik bawa-bawa asongan, kasih sama pembantu aja tuh!” celetuknya lagi, mantan pacarku, Ahong sebut saja begitu.
Yah, tak lama hubungan itu berlanjut, karena banyak perdebatan yang tetek bengek malang melintang di kepala hingga kukepalkan genggaman tuk mengatakan; putus.

Salah satu yang membuat aku tak tahan adalah gaya hidup “socialite” alias “social climber” yang dipaksakan. Kehendak bersikap bukan karena ingin mendapat pengakuan dengan amount of sequin stuff on your belonging, seperti salah satu aktris Indonesia yang popular dengan jargon, “Alhamdulilah yah… Sesuatu banget yah…” (Dalam hal ini tanpa mengecilkan arti gaya dandanan si artis bersangkutan yang mungkin nyamannya yah begitu, bling-bling!)

Akan tetapi, Saya pribadi bersikap dengan menunjukkan sebagaimana adanya, murni, tanpa dibuat-buat. Segitu yang mampu dan bisa dilakukan, kenapa harus dipaksakan, kan begitu! Nah, sama halnya ketika mengulik kilas balik asmara dengan si Ahong yang memaksakan sikapku dengan kualitas hidup kaku dan terpatok antara gengsi dan tak-nya.
“Masa mau belanja aja, megang plastik kresek aja malu!” heran kan. Namun bagi beberapa orang yang memang dari strata atas ada yang begitu memengaruhi setiap lekuk tingkahnya harus punya standar berkelas, dan malah ada yang memang pura-pura berkelas.
Nah, sehubungan dengan belanja tadi yang namanya perempuan memang lebih rentan terlibat sengketa pamor. Contohnya aja nih, tetangga B sebelah rumah beli kulkas baru, eh si ibu A yang keringat dingin, dan besoknya udah beli kulkas; teman sekelas beli Ipad, eh ikut-ikutan beli Ipad tanpa mikir sesuai tidaknya dengan kebutuhan. Beberapa contoh tersebut efeknya negatif, coba bayangkan sedepresi apa ketika barang-barang mewah itu tidak bisa tercapai, karena hanya ingin memuaskan martabat? Yah, martabat yang sejatinya tidak untuk dilihat dari seberapa benda mewah yang terlihat mata saja, karena banyak kok orang di kampung sana yang punya kekayaan materi tanpa perlu diterlihat-lihatkan, toh hidupnya justru apa adanya, sederhana. Justru tidak memancing perampokan harta benda!

Tapi dibalik efek negatif yang bisa mendera, ternyata memiliki gengsi itu juga punya sisi positif yang bisa mendongkrak posisi seseorang dalam berkarier ke arah yang lebih baik di bidang pekerjaan tertentu, serta membantu meningkatkan kepercayaan diri terhadap rekan bisnis. Misalkan saja, membelanjakan beberapa kebutuhan seperti sepatu pantofel, dasi, jas, dan kemeja. Pakaian formal itu berkesan prestisius dan elegan, sehingga seseorang yang mengenakan lebih profesional dan meyakinkan klien dalam sebuah presentasi bisnis di kantor. Makanya tak heran jika beberapa eksekutif muda membumbuinya dengan sedikit barang bermerek seperti Hermes atau Louis Vuitton.
Lalu yang menjadi pertanyaan sejauhmana sih gengsi itu patut dipelihara?
Kalau kita mengacu kepada hirarki kebutuhan manusia yang dijabarkan oleh Abraham Maslow, gengsi itu bisa dikaitkan dengan tahap esteem, dimana kebutuhan untuk dihargai dan diterima oleh orang lain melalui aktifitas atau berkegiatan tertentu. Dan dalam hal ini masih bisa dikatakan wajar ketika kebutuhan tersebut memberi kontribusi yang baik secara psikologis dan stabil antara kapasitas diri pribadi kita dulu, baru faktor-faktor sekeliling yang hendak dicapai, seperti ketenaran, status, dan kebebasan (secara ringkas bisa dilihat mengenai hirarki ini di (
http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow%27s_hierarchy_of_needs
).
Kecenderungan yang terjadi belakangan ini adalah ketika diri pribadi tidak siap, jadi gampang terombang-ambing oleh sebuah situasi yang akibatnya muncul kecemburuan sosial, rasa iri, dan bahkan sabotase untuk mendapatkan apa yang ia inginkan demi mempertahankan gengsi itu tadi.

Coba sekali-kali melihat posisi dibawah dari situasi kita sekarang, kadang itu bisa meluluhkan rasa gengsi itu menjadi rasa syukur yang tiada tara. Saya biasanya melakukannya seperti contoh, saya sudah lulus sarjana S1 Psikologi dari Universitas Diponegoro, tapi saya merasa belum puas. Apalagi timbul rasa cemburu ketika melihat beberapa teman yang telah berkesempatan untuk meneruskan ke jenjang S2. Ada perasaan ingin lebih, perasaan yang ingin memahirkan ilmu sebelumnya. Tapi kalau keinginan-keinginan itu memperburuk keadaan diri, coba bercermin, “Oh yah, masih mending aku S1, masih ada tuh yang SD aja gak tamat” atau ketika dari anda mungkin berpikir, “Yah, kok suami aku miskin. Gak bisa beliin aku baju-baju indah kayak tetangga sebelah. Mending cerai, dan cari suami kaya aja yah!” Nah, coba dilihat begitu banyak perempuan mendapatkan suami kaya dan semuanya tercukupi dan meningkatkan martabat, tapi apa benar mereka nyaman? Belum tentu juga.
Sudah karma kalau manusia dibekali potensi tak pernah puas dan ingin dihargai. Tapi sebaik-baiknya kita manusia yang punya akal budi, dan hati nurani, akan lebih baik ketika perasaan gengsi yang memperburuk hati itu dicampakkan jauh-jauh.
Yuk, sama-sama berusaha menjadi pribadi yang mengenal diri, memahami potensi kita untuk dapat dikembangkan dengan maksimal!