Archives

Sudahkah saya ikhlas hari ini?


Sebagaimana bulan Ramadan sebelumnya, Ramadan tahun ini pun begitu semarak, penuh pesona bagi tiap ummat muslim di seluruh dunia. Momen ini dijadikan peluang untuk memperbanyak ibadah kepada Tuhan, seperti mengaji, sembahyang, dan mengumpulkan sedekah. Semua itu dijadikan kunci untuk mendapatkan ridho Tuhan atas syurganya.

Akan tetapi, pernahkah berpikir bahwa apa yang kita lakukan “ikhlas” dari hati kita? Atau hanya sekedar rutinitas biasa tanpa makna?

Banyak dari kita yang lahir dan mengikuti agama dari orangtua kita. Pernahkah kita memertanyakan atau menggalinya lebih dalam?

Bagi saya pribadi, belajar untuk ikhlas itu penting. Sukar, tentu saja. Tetapi dengan keinginan yang kuat dan sebagai bentuk dari perjalanan batin yang terus diasah, bukan tidak mungkin menjadikan kita pribadi yang tak sekedar “panas-panas tahi ayam”, dimana hanya didapati ketika Ramadan tiba.

“Sudahkah saya ikhlas hari ini?” jawabannya jelas ada dalam hati kita masing-masing.

When fasting, how does it feel like?


How do you feel when you’re fasting? Thirsty, hungry, or you may feel weak and bad breath, right?

As we know since more than a hundred years ago, fasting has been used for treatment, to heal a spiritual aspect of our body and soul, it is not just for religious reason, like Muslim, Ortodox-Catholic, Hinduism, or Budhism does. For me, fasting in Ramadan it refrains me not only from eating, drinking, or sexual desires. All of them to help me practically how strengthen my spiritual connection, and enhance my positive outlook, such as to avoid jealousy, revenge, and greedy.

I’m doing it frankly without any pressure, solely it happens from deep in my heart.

Somehow, when I saw the news this morning on TV, some cheap hotels and café were swept by the police and public order agency (satpol PP) during fasting month. They tend to catch some couple without marriage at that hotel or even some people who consume alcohol. What they did most likely the same as sharia police in Afghanistan or Saudi Arabia.

Do you think it would work?

I wouldn’t think so. How does a person become independent if public order agency (satpol PP) or police officers tried to organize our godliness. In my own opinion, if you have a strong faith, you do not need control from elsewhere, it comes from your conscience, is there very close at you!

We must remember that we live in varied religious beliefs, not only Islam, we’re not officially Islamic state either. So, being tolerant each other makes us intellectually human.

I’d prefer do whatever you do and you believe, as long as you’re not bother anyone, stay in your line – keep responsibility with what you have been doing. About your pious behavior let God deal with you in the end of this world.

What will you do if your husband is gay?!


Sebuah penelitian di Universitas Toronto yang telah dipublikasikan dalam Journal Psychological Science, menemukan bahwa wanita sebenarnya berpotensi memiliki “gaydar – radar untuk mengidentifikasi seorang pria gay atau tidak”, yang dipengaruhi oleh masa menstruasi puncak.

Penelitian tersebut melibatkan 40 wanita dengan menunjukkan 80 foto wajah pria dengan ekspresi yang sama, dan ternyata melalui intuisi mereka cenderung dapat menebak seksual orientasi pria dalam foto tersebut dan sangat lebih baik ketika masa ovulasi.

Peneliti juga menemukan bahwa wanita yang berhasrat melakukan perkawinan setelah membaca karya fiksi romantik yang begitu banyak dan seronok lebih akurat memprediksi seksual orientasi seorang pria, dibandingkan dengan yang tidak diberikan bacaan yang berkaitan dengan cerita romantik sebelum ditunjukkannya foto sejumlah pria yang menjadi objek penelitian tersebut.

Ternyata ketika eksperimen serupa dicoba oleh 34 wanita dengan menunjukkan 200 foto wajah wanita, dimana separuhnya lesbian, dan separuhnya tersebut heteroseksual, tidak ditemukan relasi yang kuat antara siklus menstruasi dan penilaian wanita terhadap orientasi seksual wanita lain.

Dari penelitian itu memberi tanda bahwa fertilitas berpengaruh terhadap perhatian wanita heteroseksual untuk menemukan pasangan yang potensial daripada hanya meningkatnya sensitifitas terhadap seksual orientasi atau sinyal non-verbal secara umum.

Jadi bagaimana jika pasangan atau suami anda ternyata gay? Dan anda benar-benar tidak bisa memprediksi orientasi seksual pasangan anda, meskipun anda berada pada menstruasi puncak?

Sebagaimana diketahui, menjadi gay lalu menikah dengan seorang wanita bisa dikarenakan berbagai faktor, misalkan membangun citra yang dianggap “baik” di mata keluarga, kerabat, dan pekerjaan. Karena masih adanya anggapan jika seorang gay coming out, tentu akan dipersulit oleh banyak diskriminasi, pelecehan, dan penolakan nilai-nilai tradisional yang mau tidak mau masih menggantungkan diri terhadap tradisi tersebut.

Lalu jika wanita tersakiti, dibohongi, atau dijadikan objek “menjaga nama baik” dengan menikahi seorang gay tentu bukan hal yang mustahil. Kecuali memang ada keterbukaan pada pasangan dan terjadi kesepakatan rahasia diantara kedua belah pihak.

Berikut ada beberapa cara yang menurut saya bisa dipertimbangkan bagi wanita dalam membantu memprediksi apakah pasangan atau suami anda memiliki orientasi seksual gay atau bukan,

  1. Berteman dengan gay. Semacam chemistry yah, biasanya seorang gay bisa mengenal gay yang lain. Tentu mempermudah anda untuk meminta bantuan pada teman gay anda tentang orientasi seksual pasangan anda yang sebenarnya.
  2. Perbanyak baca literatur dan isu-isu tentang homoseksual. Memiliki pengetahuan mengenai homoseksualitas tentu akan membuat anda semakin memahami dilematika hidup jika seorang gay terpaksa berpura-pura menikah dengan wanita, atau menyembunyikan orientasi seksualnya karena berbagai alasan tertentu.
  3. Memerhatikan keseharian pasangan. Anda bisa melihat dari penampilan yang flamboyan (meskipun tidak semua yang flamboyan itu gay), atau memiliki teman lelaki yang terlampau amat sangat-sangat akrab dan bahasa tubuh yang berbeda dengan pertemanan antar lelaki pada umumnya (anda mungkin bisa merasakan perbedaannya melalui intuisi anda sebagai seorang wanita), lalu beberapa kali anda mendapatkan pasangan atau suami anda mengakses situs porno gay.

Sebelum merujuk pada sebuah kesimpulan, mengenai pembahasan apakah suami atau pasangan anda gay atau bukan, penjelasan disini bukan berarti saya seorang yang homophobia, dan isi artikel ini tidak bermaksud mengucilkan bagi teman-teman yang gay. Tetapi lebih memberi perspektif yang berbeda tentang sebuah pemahaman tentang homoseksualitas dan beberapa rentetan dilematis situasi yang dihadapi.

Ketika pada akhirnya anda mengetahui bahwa pasangan atau suami anda memiliki orientasi seksual gay, tentu bukan sebuah kebodohan atau kebencian. Tetapi bisa jadi perlu pemahaman yang membutuhkan keluasan hati tentang arti cinta kasih dan memaafkan.

Misalkan muncul pertanyaan dari anda, “kenapa gak bilang diawal?”

TAKUT PENOLAKAN.

Semua dari kita bergerak pada ketakutan-ketakutan akan penolakan, ketidakterimaan, karena pada intinya kita memiliki dasar ingin mencapai apa yang kita mau. Seorang gay yang menikahi anda, juga mungkin berpijak pada esensi tersebut.

Dia memang bersalah, tapi jangan serang gemuknya!


Dia memang bersalah, tapi jangan serang gemuknya!

Nama Afriyani Susanti (AS) kini sedang naik daun terkait kasus penabrakan yang dilakukannya pada hari Minggu 22 Januari 2012, dan telah menewaskan 9 orang, serta 3 lainnya mengalami luka-luka. Tentu kasus itu menjadi fenomenal dan menyulut amarah oleh banyak orang yang menyaksikan beritanya.

Berbagai kutukan, cacian, dan hinaan yang ditujukan kecenderungannya mengarah ke fisik si pelaku yang kebetulan memiliki badan besar, seperti beberapa contoh dibawah ini:

 

 

Salah satu kutipan di atas, misalkan, ada yang mengatakan “mau lihat babi tercantik di Indonesia? liat aja @siNengApril”. Kutipan yang ditujukan ke Twitter saudari AS tersebut tidak sedikit yang bernada sarkasme. Jika diperhatikan apa yang dilakukan oleh sebahagian orang kepada saudari AS sebagai bentuk agresivitas secara verbal, dimana mereka mencoba melampiaskan kekesalan, amarah, dan ketidaksukaan atas insiden yang telah terjadi.

Kemudian yang sangat tidak mengenakkan, tapi tidak bisa disalahkan 100 % juga, yaitu penghakiman terhadap bentuk badan si pelaku sebagai objek sasaran. Bisa dibayangkan tidak, jika ada orang yang juga memiliki badan gemuk ketika melihat atau mendengar celetukan hinaan itu. Mungkin memang tidak bermaksud menghinanya, namun mau tidak mau pasti ada terbersit perasaan ‘terhina’ juga sebagai sesama makhluk Tuhan yang memiliki berat badan ekstra.

Selain itu, pemberitaan mengenai hukuman saudari AS yang diperkirakan akan dipenjarakan selama 6 tahun saja, tentu masih bersifat spekulasi. Belum ketuk palu. Jadi semestinya tak serta merta dibesar-besarkan.

Sejatinya memang dari kasus ini kaitannya terhadap kemudahan tekhnologi jejaring sosial dan pemberitaan melalui media internet membuat kita sebagai insan pengguna, belajar untuk tidak gampang tersulut emosi yang takutnya berakibat buruk pada diri kita sendiri.

Penghakiman terhadap bentuk fisik dan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari sebuah kejadian, sebaiknya dihindarkan dan pelajaran bagi kita semua agar lebih mawas dalam memberi respon.

Women, Grocery, and A Prestige Mindset


Dear, jangan bawa plastik kresek aghh, I’d be ashamed to bring those things!”

“Masa cantik-cantik bawa-bawa asongan, kasih sama pembantu aja tuh!” celetuknya lagi, mantan pacarku, Ahong sebut saja begitu.

Yah, tak lama hubungan itu berlanjut, karena banyak perdebatan yang tetek bengek malang melintang di kepala hingga kukepalkan genggaman tuk mengatakan; putus.

Salah satu yang membuat aku tak tahan adalah gaya hidup “socialite” alias “social climber” yang dipaksakan. Kehendak bersikap bukan karena ingin mendapat pengakuan dengan  amount of sequin stuff on your belonging, seperti salah satu aktris Indonesia yang popular dengan jargon, “Alhamdulilah yah… Sesuatu banget yah…” (Dalam hal ini tanpa mengecilkan arti gaya dandanan si artis bersangkutan yang mungkin nyamannya yah begitu, bling-bling!)

Akan tetapi, Saya pribadi bersikap dengan menunjukkan sebagaimana adanya, murni, tanpa dibuat-buat. Segitu yang mampu dan bisa dilakukan, kenapa harus dipaksakan, kan begitu! Nah, sama halnya ketika mengulik kilas balik asmara dengan si Ahong yang memaksakan sikapku dengan kualitas hidup kaku dan terpatok antara gengsi dan tak-nya.

“Masa mau belanja aja, megang plastik kresek aja malu!” heran kan. Namun bagi beberapa orang yang memang dari strata atas ada yang begitu memengaruhi setiap lekuk tingkahnya harus punya standar berkelas, dan malah ada yang memang pura-pura berkelas.

Nah, sehubungan dengan belanja tadi yang namanya perempuan memang lebih rentan terlibat sengketa pamor. Contohnya aja nih, tetangga B sebelah rumah beli kulkas baru, eh si ibu A yang keringat dingin, dan besoknya udah beli kulkas; teman sekelas beli Ipad, eh ikut-ikutan beli Ipad tanpa mikir sesuai tidaknya dengan kebutuhan. Beberapa contoh tersebut efeknya negatif, coba bayangkan sedepresi apa ketika barang-barang mewah itu tidak bisa tercapai, karena hanya ingin memuaskan martabat? Yah, martabat yang sejatinya tidak untuk dilihat dari seberapa benda mewah yang terlihat mata saja, karena banyak kok orang di kampung sana yang punya kekayaan materi tanpa perlu diterlihat-lihatkan, toh hidupnya justru apa adanya, sederhana. Justru tidak memancing perampokan harta benda!

Tapi dibalik efek negatif yang bisa mendera, ternyata memiliki gengsi itu juga punya sisi positif yang bisa mendongkrak posisi seseorang dalam berkarier ke arah yang lebih baik di bidang pekerjaan tertentu, serta membantu meningkatkan kepercayaan diri terhadap rekan bisnis. Misalkan saja, membelanjakan beberapa kebutuhan seperti sepatu pantofel, dasi, jas, dan kemeja. Pakaian formal itu berkesan prestisius dan elegan, sehingga seseorang yang mengenakan lebih profesional dan meyakinkan klien dalam sebuah presentasi bisnis di kantor. Makanya tak heran jika beberapa eksekutif muda membumbuinya dengan sedikit barang bermerek seperti Hermes atau Louis Vuitton.

Lalu yang menjadi pertanyaan sejauhmana sih gengsi itu patut dipelihara?

Kalau kita mengacu kepada hirarki kebutuhan manusia yang dijabarkan oleh Abraham Maslow, gengsi itu bisa dikaitkan dengan tahap esteem, dimana kebutuhan untuk dihargai dan diterima oleh orang lain melalui aktifitas atau berkegiatan tertentu. Dan dalam hal ini masih bisa dikatakan wajar ketika kebutuhan tersebut memberi kontribusi yang baik secara psikologis dan stabil antara kapasitas diri pribadi kita dulu, baru faktor-faktor sekeliling yang hendak dicapai, seperti ketenaran, status, dan kebebasan (secara ringkas bisa dilihat mengenai hirarki ini di (
http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow%27s_hierarchy_of_needs
).

Kecenderungan yang terjadi belakangan ini adalah ketika diri pribadi tidak siap, jadi gampang terombang-ambing oleh sebuah situasi yang akibatnya muncul kecemburuan sosial, rasa iri, dan bahkan sabotase untuk mendapatkan apa yang ia inginkan demi mempertahankan gengsi itu tadi.

Coba sekali-kali melihat posisi dibawah dari situasi kita sekarang, kadang itu bisa meluluhkan rasa gengsi itu menjadi rasa syukur yang tiada tara. Saya biasanya melakukannya seperti contoh, saya sudah lulus sarjana S1 Psikologi dari Universitas Diponegoro, tapi saya merasa belum puas. Apalagi timbul rasa cemburu ketika melihat beberapa teman yang telah berkesempatan untuk meneruskan ke jenjang S2. Ada perasaan ingin lebih, perasaan yang ingin memahirkan ilmu sebelumnya. Tapi kalau keinginan-keinginan itu memperburuk keadaan diri, coba bercermin, “Oh yah, masih mending aku S1, masih ada tuh yang SD aja gak tamat” atau ketika dari anda mungkin berpikir, “Yah, kok suami aku miskin. Gak bisa beliin aku baju-baju indah kayak tetangga sebelah. Mending cerai, dan cari suami kaya aja yah!” Nah, coba dilihat begitu banyak perempuan mendapatkan suami kaya dan semuanya tercukupi dan meningkatkan martabat, tapi apa benar mereka nyaman? Belum tentu juga.

Sudah karma kalau manusia dibekali potensi tak pernah puas dan ingin dihargai. Tapi sebaik-baiknya kita manusia yang punya akal budi, dan hati nurani, akan lebih baik ketika perasaan gengsi yang memperburuk hati itu dicampakkan jauh-jauh.

Yuk, sama-sama berusaha menjadi pribadi yang mengenal diri, memahami potensi kita untuk dapat dikembangkan dengan maksimal!