Jikalau dulu ada yang menyerukan bahwa perempuan itu adalah ‘makhluk kelas dua’ di jagat bumi ini, sehingga kelahirannya masih dipergunjingkan. Bukan tidak mungkin jika di otak manusia abad sekarang masih ada yang memiliki pemahaman seperti itu.
Kita lihat saja perbudakan, perdagangan, bahkan kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan kerap tertayang dalam pandangan kita. Secara geografis, perempuan-perempuan di negara berkembang, seperti Indonesia saja, misalkan. Telah cukup banyak kasus yang terkuak mengenai kekerasan dan pelecehan terhadap pekerja rumah tangga perempuan di luar negeri, seperti di Arab Saudi.
Harga seorang perempuan itu sungguh memilukan, bahkan terkadang sesama perempuan pun terlibat untuk menjebak dan mengkhianati perempuan lain dengan alasan; kebutuhan hidup.
Semoga peringatan hari perempuan sedunia yang jatuh pada hari ini menjadi momentum untuk bergerak lebih baik lagi dalam mengadvokasi dan memaksimalkan kebutuhan-kebutuhan para perempuan, terutama perempuan yang hidup di Indonesia.
Masih banyak saya rasa perempuan yang berjuang sendiri, hidup dalam keprihatinan, membanting tulang menafkahi anak-anak tanpa suami. Potret pejuang perempuan-perempuan itu kiranya menjadi pemicu perempuan lain agar saling memajukan dan melahirkan generasi-generasi berikutnya yang penuh budi pekerti yang luhur dan berjiwa nasionalisme.
Segera – memulai dari diri sendiri, dalam lingkungan kecil dan hal-hal kecil.