Archive | March 7, 2012

Intrik dari sebuah keserakahan sang penguasa


Ironis, para elite politik dengan langkah tegap masih saja ada berebut kursi kekuasaan di gedung megah sana dan dengan iming-iming janji manis ‘mensejahterahkan rakyat’ yang tak pernah kesampaian. Dada dibusungkan, sumpel telinga kanan-kiri, lalu berseru dalam hati, “MAMPUS! Penting congor dan buntutku makmur selamanya…”

Di sisi lain, ada rakyat dengan sangat masygul mendiami nasib mereka yang semakin terhimpit, antara mati kelaparan dihimpit roda perekonomian yang menyesakkan pinggang, atau dibui karena terdesak menjarah milik orang lain.

Seberang sana masih berkumandang rencana agar periode depan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan.

Hajat hidup orang banyak yang rata-rata telah dimiskinkan dengan merajalelanya korupsi semakin menjerit, karena sudah barang tentu kenaikan BBM akan berdampak melonjaknya listrik dan kebutuhan sembako lainnya, seperti beras, ikan, telur, dan sebagainya.

Sebuah statistik memang, entah valid atau tidak menyuarakan bahwa angka-angka manusia miskin itu sudah berkurang kok dari masa ke masa. Pun lengkap dengan rentetan angka-angka fantastis merunyamkan otak sebagai penguatan data. Oleh karena itu, suara sumbang yang lain mengamini bahwa kenaikan BBM itu wajarlah. Toh, nanti yang miskin diberi bantuan langsung tunai (BLT). Menjadi masalah dalam hati saya sebagai rakyat kecil, benar gak itu prosedur bisa berjalan dengan semestinya. Jangan-jangan malah ada pemotongan kesamping kanan-kiri, dan ujungnya ‘NOL BESAR’.

Sejatinya golongan rakyat jelata bisa hidup tenteram tanpa direcoki dan dipolitisi untuk memperkaya sebahagian penguasa yang haus harta benda dan kedudukan. Tambahan lagi, pelaku itu katanya sebangsa dan setanah air. Mana buktinya?

Kanibalisme, tepatnya.

Penilaian saya, ketika apa yang di depan mata telah benar-benar terlihat mensejahterakan rakyat, seperti biaya rumah sakit terjangkau, menggratiskan pendidikan, kemudian infrastruktur di masyarakat, seperti transportasi dan sarana prasarana di berbagai sektor masyarakat terstruktur dengan baik, maka saya baru yakin benar adanya segala kebijakan-kebijakan sang penguasa itu berpihak untuk rakyat, bukan untuk mengisi kantong sendiri.

Mungkin rakyat pun kan berkomentar, “Yah, gak apa-apalah naik, toh, kita jadi rakyat sejahtera. Sekolah gratis, biaya hidup terjangkau!”

Sebaliknya, kenyataan berkata tidak.

Telah begitu banyak kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh sang penguasa sebelumnya, namun saya perhatikan kondisi di lapangan dan rentetan laporan oleh media 180 derajat beda. Terlalu banyak penyimpangan.

Mau dibawa kemana jadinya nasib bangsa ini jika terus-menerus sang penguasa ber-mottokan, “bersenang-senang, diatas penderitaan rakyat!”