Sebuah Ironi yang sangat mencengangkan di Negeri tercinta ini ketika seorang Ibu berusaha untuk berkata jujur bahwa ”mencontek itu tidak baik!”, justru mendapat feedback buruk – cercaan, diskriminasi, bahkan disebut-sebut sok pahlawan.
Heran. Ngeri. Sekaligus miris melihat perkembangan karakter pribadi Bangsa Indonesia ini bukan makin tambah baik, justru makin terpuruk.
”Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” Mungkin bisa menjadi gambaran jelas ditengah maraknya isu KORUPSI di kalangan elite politik negeri ini bisa dijadikan sebagai gambaran jelas bahwa buahnya, dalam hal ini rakyat kecil pun banyak yang ”sakit”. Meradang sampai ke akar-akarnya.
Pendidikan yang sejatinya dijadikan tonggak pembelajaran budi pekerti ternyata realitas yang terjadi justru mumpuni hal-hal yang tidak elok. Memang saya sadari semasa bersekolah di SMP atau SMU perilaku mencontek itu sudah eksis kok. Jujur, saya juga pernah terlibat didalamnya. Perasaan waktu itu seperti memacu adrenalin – tegang, nikmat, dan melegakan (kalau tak ketahuan!)
Pada akhirnya saya sadar di fase prematur, tidak sampai menggila dan profesional untuk mencontek waktu itu. Itu pun terjadi karena pada masa saya bersekolah ada budaya KONFORMITAS yang tinggi sekali. ”Lah enak kali pun dia bisa nyontek. Capek aku belajar siang malam, kalau kayak gitu aku nyontek jugalah!!!” Seperti itu kira-kira dalam benak saya. Namun muncul perasaan bersalah. Perasaan yang membuat saya kurang bangga sebenarnya. Gejolak itu beradu debat dengan rasa iri melihat Sang pencontek ulung mendapatkan BIG PRIZES yang seharusnya tak layak Ia dapatkan.
Dalam kasus ini, Ibu Siami merupakan salah satu ROLE MODEL BAGAIMANA MENJADI ORANG JUJUR. Jujur dengan dirinya dan anak-anak yang Ia sekolahkan, jujur bahwa Ia tahu kemampuan anaknya, jujur bahwa sistem di kelas ketika ujian tidak benar, jujur bahwa kalau mau berantas korupsi yah salah satunya dari sistem PENDIDIKAN dulu.
Masih ingat tidak pelajaran PPKN? Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Nasional. Disitu biasa mengajarkan budi pekerti, seperti soal-soal normatif berikut; hemat pangkal… kaya; rajin pangkal… pandai; jujur pangkal… BODOH. ”Lah kok bodoh toh?”, Jelas saja karena kenyataannya kalau dilihat dari kasus Ibu Siami malah Ia dianggap bodoh oleh orangtua murid yang lain. Ia dianggap sok pahlawan, sok bersih, cari muka dengan kepala sekolah..bla bla bla. Di kalangan elite juga serupa, ketika ada isu SMS yang menyebar dan membeberkan sebuah kejujuran, malah diumpat sebagai fitnah.
”Hmm.. jadi anehkan???”
”Terus solusinya?!!!”
Solusinya ada pada diri kita masing-masing. Bagaimana mau berubah, kalau diri sendiri tak mau menyadari diri untuk berubah ke arah pribadi yang lebih baik. Pribadi yang TIDAK GENGSI kalau negeri ini di fase pesakitan. Pribadi yang TIDAK GENGSI mengaku kalau Ia benar-benar tidak tahu dan butuh dibimbing. Pribadi yang TIDAK GENGSI mengungkapkan kelemahannya agar bisa belajar lebih baik dan mencari celah produktif dari titik lemah tersebut.
”Yukk.. sama-sama koreksi diri. Koreksi citra diri – citra bangsa yang dulunya pamor sebagai negeri yang penuh kejujuran dan keramahtamahan!!!”
![HONESTY-175[1]](http://janeontheblog.files.wordpress.com/2011/06/honesty-1751.jpg?w=300&h=191)
Pingback: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran! | Bined